PAPUA NEWSLETTERS

Mari Cerdaskan generasi muda Papua Indonesia

Karena Generasi muda adalah tiang utama kemajuan. Kekuatan sebuah masyarakat bisa dilihat dari para Generasi Mudanya, karena pemuda adalah yang menunjukkan bahwa masyarakat itu sehat dan mampu untuk melangkah dengan serius dan ketekunan

KU TITIPKAN INDONESIA INI PADA ANAK CUCUMU

>>>...

100% WE LOVE INDONESIA

Banyak pujian dan kekaguman Budaya dan alammu, Kamu dan aku sama – sama cinta Cinta padamu Papuaku. Tiada yang lebih membanggakan jiwa Hanyalah Papuaku Senyuman tulus dan penuh cinta Sungguh menyentuh sanubari oohh

JANGAN BIARKAN MEREKA MERUSAK MORAL ANAK-ANAK MU

>>>...

HARUMKAN NAMA IBU PERTIWI DARI TANAH INI...!!!

...

Senin, 31 Agustus 2015

Keadilan Sosial Di Papua Bukan Sekedar Pepesan Kosong”.

Kemampuan Pemerintah Daerah dalam menanggapi secara cepat dan tepat terhadap berbagai permasalahan pendidikan adalah suatu tuntutan di era otonomi daerah, mengingat bahwa Pemerintah Daerah memiliki kewenangan yang cukup untuk mengambil sikap dan tindak kebijakan yang koheren dan relevan dengan aspirasi masyarakatnya. Kebijakan tersebut sudah terbukti dengan di berlakukannya UU Otsus yang di khususkan untuk Papua.

Dalam rangka peningkatan kualitas sumberdaya manusia di Tanah Papua, Pemerintah Daerah telah melakukan banyak hal dan kita sudah dapat melihat hasilnya. Hasil penting yang telah dicapai adalah meningkatnya kesempatan belajar bagi seluruh masyarakat Papua serta meningkatnya lulusan orang Papua yang dapat ditampung di berbagai Perguruan Tinggi di Papua dan di luar Papua. hal ini sudah membuktikan bahwa sebenarnya pemerintah sudah sangat serius untuk memperhatikan wilayah Papua, namun kendala sebenarnya ada pada sumberdaya manusianya sendiri.

Berbicara tentang sumberdaya manusianya, mari kita lihat kebelakang bahwa selama ini, sebenarnya yang membuat Masyarakat Papua tidak bisa berkembang adalah orang Papua sendiri, terkhususnya orang-orang yang menginginkan kekuasaan hingga membuat mereka menghalalkan segala cara, seperti kelompok separatis politik yang berada di luar Negeri yang sedang bersenang-senang disana dan melempar bola panas ke Papua dan menimbulkan konflik berkepanjangan yang membuat pembangunan di Papua ini semakin terhambat.

Membahas tentang kelompok separtis, tidak hanya kelompok separtis politik yang menginginkan kekuasaan, kelompok separtis yang ada di hutan juga demikian, mereka seperti terpecah belah, dan membentuk kelompok-kelompok radikal yang menginginkan kekuasaannya masing-masing.

Hal ini benar-benar menjadi perhatian serius bagi Negara ini, karena akibat ulah mereka proses pembangunan di Papua ini menjadi sangat terhambat, guru-guru yang ingin mengajar di pedalaman takut untuk mengajar disana karena adanya ancaman kelompok separatis, para mahasiswa yang di kirim ke luar daerah juga terkesan tidak belajar, karena adanya ajakan-ajakan dari kelompok separatis politik yang selalu meracuni pikiran mereka.

Namun demikian pemerintah tidak pernah menyerah untuk membangun daerah paling timur Indonesia ini, karena dari Sabang sampai Merauke merupakan satu kasatuan, jadi tidak ada perbedaan antara satu dan lainnya.



Jadi jika sampai saat ini masih ada orang-orang yang mengatakan bahwa Papua tidak diperhatikan? Mari kita duduk bersama dan melihat langsung berbagai pembangunan yang ada, dari pada hanya berbicara seolah-olah Papua tidak diperhatikan, mari kita bersama-sama membangun bukan hanya berkata tidak benar, seakan-akan mengompor-ngompori masyarakat sehinggah hanya menghambat kemajuan di Papua.

Minggu, 30 Agustus 2015

Tokoh Agama Berperan Penting Dalam Proses Rekonsiliasi di Papua

Trend perkembangan kejahatan atau penyalahgunaan sistem keagamaan dari waktu ke waktu menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, bahkan kasus-kasus yang terungkap hanya sebagian kecil saja yang tampak di permukaan sedangkan kedalamannya tidak terukur. Peningkatan ini antara lain terjadi karena pengaruh kemajuan teknologi, globalisasi dan derasnya arus informasi.

Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah :

· Karena agama merupakan sumber moral

· Karena agama merupakan petunjuk kebenaran

· Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika

· Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka.

Dalam usaha menganalisa fungsi-fungsi sosial dari tingkah laku keagamaan. Kita harus berhati-hati membedakan antara yang ingin dicapai oleh anggota- anggota suatu kelompok seperti para anggota kelompok separatis yang mengatasnamakan diri mereka pejuang Papua.

Agama mengajarkan moral dan etika untuk hidup dalam suatu masyarakat. Malahan agama nampaknya digunakan oleh ambisi kekusasaan dan menghalalkan pembasmian-pembasmian terbatas maupun tak terbatas, di bumi Indonesia yang penduduknya konon, hampir 100% beragama justru memicu konflik antar umat beragama, bermunculan gerakan-gerakan radikal. Berbagai masalah ini yang bernuansa, seolah menjadikan kita takut, trauma yang mendalam, akibat konflik yang berulang kali terjadi di bangsa ini, konflik agama yang terakhir terjadi yaitu di Tolikara beberapa waktu yang lalu, tentunya tragedi ini meninggalkan luka yang mendalam bagi yang berkonflik.

Konflik di Papua menjadi sebuah permasalahan yang sangat serius. Konflik sering kali kita terjemahkan sebagai sebuah pertikaian atau kekerasan yang terjadi, Konflik Papua dalam konteks ini lahir akibat adanya suatu penjajahan baru terhadap kehidupan manusia di segala lini kehidupan. Terlepas dari itu, akibat dari lahirnya konflik yang berkepanjangan hingga sampai saat ini pembangunan Papua untuk mensejahteraan masyarakat terhambat.

Peranan dari tokoh Agama sendiri dalam pembangunan di Papua cukup besar. Gereja dan Tokoh Agama merupakan pihak pertama yang masuk membuka kegelapan, Hal ini di manfaatkan betul oleh orang-orang tidak bertanggung jawab, seperti para anggota separatis yang mengatasnamakan diri Mereka Pejuang Papua yang langsung masuk ke kehidupan bermasyarakat lewat para pemuka Agama,

Padahal seharusnya tempat-tempat ibadah dan para pemuka agama membantu masyarakat terlebih lagi menuntun masyarakat agar bersatu dan bersama-sama membangun Papua, bukanya malah menjadi corong bagi para pelaku kekerasan yang mengatasnamakan Agama, karena pada dasarnya Agama adalah pemersatu semua golongan tanpa pandang bulu.

Untuk itu mari kita bersama-sama bersatu dan menyatu untuk membangun Papua dengan dibantu oleh para Tokoh agama dan masyarakat yang semakin membuka mata hati kita, bahwa harus berani menolak penyalahgunaan keagamaan ini.

Selasa, 25 Agustus 2015

TPN-PB/OPM Ambil Nyawa Seorang Ibu Papua

Jayapura - Pada hari Minggu, 23 Agustus 2015, sekitar pukul 13:37 waktu Timika terjadi kejadiaan penikaman yang di duga oleh sekelompok anggota dari TPN/-PB/OPM yang bertempat di Toko Swalayan 2000 Jl. Budi Utomo, Kelurahan Inauga Distrik Mimika Baru.



Menurut cerita yang dihimpun dari masyarakat yang melihat kejadian tersebut bahwa, kejadian terjadi saat ibu alias korban sedang belanja dalam toko itu dan tiba-tiba orang datang masuk langsung cabut pisau dan ayungkan tangan pelaku pada bagian tubuhnya. Anggota dari TPN-PB/Opm ini mencoba merampok dan mengambil tas seorang ibu Papua yang berniat belanja di warung tersebut, tetapi terjadi tarik-menarik antara pelaku dan korban, merasa terancam akibat sudah terdengar oleh masyarakat banyak akhirnya pelaku pun langsung membunuh korban.



Pertama diayungkan tangannya dibagian kedua lengan tangan kemudian diayungkan tangan pelaku menikam pada bagian ketiak pusatnya jantung si korban. Pada saat itu masyarakat yang melihat langsung berlari untuk menangkap pelaku, akibat kalah cepat berlari dengan pelaku akhirnya pelakupun dapat melarikan diri dan menghilang.



Melihat kondisi korban yang sudah banyak mengeluarkan darah dan tidak sadar lagi, masyarakat setempat pun langsung membawa korban ke RSUD Mimika di Nawaripi SP4 dalam kondiri kritis untuk di otopsi. Petugas RSUd yang berusaha sekuat tenaga untuk menolong ibu itu pun akhirnya menyerah, dikarenakan ibu tersebut telah kehabisan darah dan memiliki luka bacok yang sangat parah, bahkan sampai mengenai jantungnya, sehingga ibu tersebut tidak dapat lagi ditolong lagi.



Ketika para petugas datang ke tempat lokasi kejadian (TKP), masyarakat yang berada dan mengetahui kronologis kejadian tersebut malah menghindar dan menghilang. Hal ini karena mereka takut dicurigai dan mereka juga takut bila mereka memberitahukan siapa pelakunya. Mereka juga sangat takut menjadi korban dari kekerasan yang selama ini masih terjadi di daerah tersebut. Sebab kelompok TPN-PB/OPM banyak meneror masyarakat setempat, sehingga membuat masyarakat sangat takut untuk ikut campur dalam masalah seperti ini.



Penindasan oleh TPN-PB/OPM di Timika tidak hanya kali ini saja, sudah banyak korban jiwa yang sudah mereka bunuh yang tidak sama sekali diketahui oleh umum dan wartawan TV sehingga tidak pernah terkuak kekejaman mereka di daerah tersebut.

Masyarakat setempat membenarkan bahwa, kejadian ini benar-benar sangat menakjubkan karena di siang bolong bisa dilakukan penganiayaan hingga menewaskan ibu rumah tangga (IRT) tetapi tidak bisa mengungkapkan pelaku dan kronologis kejadiannya.



Menurut sang suami korban, Bapak Yance Jitmau memintah agar kronologis dan para saksi agar mau memberikan penjelasan serta meminta kepada pihak kepolisian agar dapat membantu. Pihak keluarga korban sangat berharap banyak kepada Pihak yang bertanggung jawab agar dapat mengungkap siapa pelaku yang membunuh istrinya itu dengan kejam. Suami korban, Yance meminta agar semua orang TKP juga perlu investigasi dan melakukan intelinsi agar pelakunya dapat ditangkap, keluhnya dengan irama sedih.

Pihak dari kepolisian sendiri sudah mengetahui siapa pelaku dari pembunuhan tersebut. Pihak kepolisian juga menghimbau kepada seluruh masyarakat yang tinggal di daerah tersebut agar mau membantu dan bekerjasama dengan pihak kepolisian. Bila pihak TPN-PB/OPM kembali lagi melakukan tindakan kriminal agar segera dilaporkan kepada pihak keamanan, sehingga jangan sampai terjadi lagi korban jiwa seperti ini.



Masyarakat adalah teman dan sahabat dari aparat keamanan yang bertugas di daerah tersebut. Bila tidak ada dukungan maupun kerjasama dari masyarakat setempat, maka pihak aparat pun tidak akan ada guna berada di daerah tersebut. Maka dari itu, diharapkan masyarakat dapat menjadi teman dan rekan kerja pihak aparat keamanan begitu pun sebaliknya, sehingga maka akan tercipta kondisi daerah yang aman, nyaman dan tentram.

Solidaritas Mahasiswa yang tergabung dalam Solid NKRI menolak Gerakan Papua Merdeka

Jayapura – Himpunan pergerakan pemuda yang mengatasnamakan Solidaritas Indonesia Dukung NKRI (Solid NKRI) yang beranggotakan 400 pemuda yang berasal dari berbagai daerah berunjuk rasa di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Malang. Mereka meneguhkan semangat persatuan dan menolak Kemerdekaan Papua.

Semangat pemuda inilah yang menentukan kemajuan bangsa, jika flas back betapa pentingnya peran para pemuda, berkat jasa para pemuda kita terdahulu mereka dengan semangat membara ingin menyatukan para pemuda yang memiliki aneka ragam perbedaan telah mengikrarkan sumpah pemuda untuk menjadi satu bangsa Indonesia yang dipersatukan dengan satu alat komunikasi secara nasional yaitu bahasa Indonesia.

Dengan semangat baja itulah mereka mempersatukan diri meski dalam berbagai perbedaan demi kemajuan bangsa dan negara tercinta Indonesia. Kemudian apakah kita sebagai pemuda dan pemudi sekarang ini tidak ingin berterimakasih kepada mereka dan meneruskan semangat mereka untuk memajukan bangsa ini dalam persatuan dan kesatuan yang kokoh? Lalu bagaimanakah hendaknya kita sebagai pemuda/pemudi penerus bangsa ini melihat keinginan Papua untuk lepas dari bingkai kesatuan republik Indonesia ? tentunya kita semua tidak menginginkan itu semua terjadi, sudah cukup kejadian seperti di Timor-timor tidak untuk daerah yang lainnya karena akan mengancam keutuhan NKRI.

Untuk itu, mereka menuntut kepada Presiden Joko Widodo untuk mencegah aksi-aksi pendukung Papua merdeka yang sudah sangat cukup meresahkan baik di papua sendiri maupun di kota-kota lain, banyak mahasiswa asal papua yang membentangkan spanduk untuk kemerdekaan papua. Itu tentunya sangatlah tidak baik bagi keamanan kita semua sesegera mungkin harus ditindak secara tegas Tujuannya adalah agar bibit separatis tak berkembang dan mengancam keutuhan NKRI.

"Kami mengecam aksi Aliansi Mahasiswa Papua yang menuntut agar Papua merdeka dan Referendum," kata juru bicara aksi Agus Yudi Susanto, Kamis, 20 Agustus 2015.

Para pemuda yang mengaku berasal dari Pemuda Pancasila, Front Pembela Islam, dan Forum Komunikasi Putra putri Purnawirawan Indonesia ini menilai aksi mahasiswa Papua sebagai tindakan makar. "Papua tetap bagian dari NKRI," ucap Agus.

Tentunya aksi tersebut telah bertentangan dengan isi perudang-undangan yang berlaku di negara ini yang seharusnya dapat dijatuhi hukuman pidana bagi provokator maupun yang terlibat akan aksi tersebut. Selai itu juga Gerakan pemuda Papua yang berbasis di kampus, kata Agus, telah membuat geram dan merusak suasana kerukunan serta persaudaraan di Kota Malang. Para pemuda menolak aksi mahasiswa yang melakukan gerakan makar dari Malang. "Jangan sampai ada kekerasan fisik. Kita ingin Malang tetap kondusif."

Maka untuk itu sesegera mungkin pemerintah bertidak cepat agar "Bubarkan Aliansi Mahasiswa Papua," ujar anggota FKPPI Achmad Shodiq. Ia menuntut polisi dan aparat keamanan turun tangan untuk mencegah bibit perpecahan seperti Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang selama ini sudah sangat meresahkan.

Selama setahun terakhir tercatat AMP melakukan tiga kali aksi unjuk rasa. Mereka menyerukan kemerdekaan Papua setelah Konferensi Tingkat Tinggi Melanesian Spearhead Group mengakui keanggotaan United Liberalition Movement for West Papua (ULMWP) sebagai perwakilan Papua.

Mereka mengklaim didukung seribuan mahasiswa Papua di Malang yang mendukung kemerdekaan West Papua. Dalam aksinya, mereka membawa poster bertulis "West Papua Back to Family", "Stop Pemusnahan Etnis Melanesia", "West Papua for MSG", "TNI Polri Stop Diskriminasi dan Intimidasi", "Segera Buka Akses Jurnalis Internasional."

Untuk itu, wahai semua para pemuda dan pemudi bangsa Indonesia tercinta ini, mari kita bersama-sama untuk menolah tegas atas kemerdekaan Papua dan keinginannya untuk melakukan Referendum. Kerena papua merupakan bagian negara kesatua republik indonesia yang sampai kapanpun tidak akan terpisahkan sesuai dengan semboyan Bhineka tunggal Ika. Mari kita bekerjasama dan saling mendukung untuk mencapai keberhasilan demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini. Hilangkan semua perbedaan demi kemajuan bangsa dan negara tercinta Indonesia.

PAPUA BANYAK MELAHIRKAN ATLET BERBAKAT

Tim Futsal asal Papua yang diwakili oleh SMA N 4 Jayapura, berhak menyandang gelar Juara setelah mengandaskan Tim futsal asal Jawa barat melalui drama adu penalti. Tim dari ujung Timur itu sebelumnya mengalahkan wakil Jawa timur dengan skor 4-2 pada partai semi final dan berhasil melaju ke Final. Sementara Jawa Barat mengalahkan Sulawesi Tengah dengan skor tipis 3-2. Kedua tim ini berlaga Pada partai final Liga Futsal Perindo 2015 U 18 di GOR Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (23/8/2015).

Partai Final yang dilakoni kedua Tim ini sangat dramatis, gol pertama diciptakan oleh Ardiansyah Runtuboy pemain asal serui dari tim Papua, 1-0 untuk Papua pada babak pertama. Pada babak kedua skor berubah menjadi imbang hingga pertandingan usai, dan dilanjutkan dengan drama adu penalti. Marcel yang menjadi penentu, sukses menjebol gawang jabar, dan memastikan Tim papua sebagai juara.

Dengan kemenangan itu, Tim Papua pun berhak atas hadiah berupa uang pembinaan sebesar Rp50 juta. Sedangkan Jabar sebagai runner up, berhak atas hadiah uang pembinaan sebesar Rp25 juta. Lalu untuk tim yang menempati peringkat tiga dan juga harapan satu, ditempati Jawa Timur (Jatim) dan Sulewesi Tengah (Sulteng). Masing-masing berhak atas uang pembinaan Rp10 juta dan Rp5 juta.

Pelatih dari Tim Papua, Theo Balubun, mengaku sangat bangga dengan pemain-pemainnya yang tidak mudah menyerah dan bermain bagus. Theo menambahkan ajang-ajang seperti ini harus sering diselenggarakan agar atlet-atlet muda asal Papua bisa berkompetisi di luar Papua, dan masyarakat sana bisa tahu bahwa di Papua banyak pemain-pemain muda berbakat dan tidak menutup kemungkinan di pakai oleh Tim Pro Futsal dari klub-klub di Indonesia.

Tim Papua yang berhasil menjuarai liga ini pun mendapat apresiasi yang tinggi dari pihak sekolah, SMA N 4 Jayapura yang menyambut kedatangan mereka di bandara Sentani, Jayapura. Acara seremoni dengan pengalungan bunga, selanjutnya tim diarak oleh rekan dan guru menuju sekolah. Setibanya sambutan meriah pun sudah disiapkan oleh semua murid dan guru. Pihak sekolah mempersembahkan pertunjukan drum band. Marcel sendiri yang menjadi bintang mengaku bangga bisa mempersembahkan sesuatu yang berharga untuk Papua.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak anak-anak Papua usia muda, mampu bersaing dan berkompetisi dengan anak diluar Papua. Untuk itu kompetisi-kompetisi seperti ini harus lebih sering dilaksanakan guna mengasah talenta-talenta muda dari Papua dan dari kota-kota lainnya. ap





















Merdekakan Papua dari MIRAS !!!

Memerdekakan Papua, tak melulu harus diartikan bahwa Papua harus dipisahkan secara mandiri dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Hal ini, sebagaimana tuntutan sebagian kecil warga Papua yang hingga hari ini masih saja menyerukan keinginan mereka akan hal tersebut.

Memerdekakan Papua, tentu bisa dilakukan dalam banyak hal, yang diantaranya memerdekakan Papua dari semua hal yang bersifat negatif, yang mana hal ini tentu lebih penting dan lebih utama untuk dilakukan. Memerdekakan Papua bisa dilakukan dengan membebaskan Papua dari budaya mabuk-mabukan yang konon kini sedang marak di Papua. Memerdekakan Papua bisa dilakukan dengan membebaskan Papua dari HIV-AIDS yang kini telah menjerat dan merenggut banyak nyawa warga Papua. Memerdekakan Papua bisa dilakukan dengan membebaskannya dari kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan dan lain sebagainya.

Sudah terlalu larut polemik Papua Merdeka ini kita biarkan. Sudah terlalu lama ia menjadi benang kusut yang ruwet dan rumit, yang tentu hanya jadi penghambat kemajuan Papua kita selama ini.

Kini, sudah saatnya polemik itu untuk kita akhiri. Sudah saatnya kita keluar dalam jeratan keruwetan polemik itu. Sudah saatnya kita semua berkerja secara bersama-sama, bersatupadu membangun dan memajukan Papua.



* Selamatkan Pemuda Papua dari Budaya Mabuk-mabukan !!!

Seperti yang telah disinggung dalam paragraf sebelumnya, bahwa memerdekakan Papua tidak melulu harus dilakukan dengan memisahkannya dari NKRI. Ianya, salah satunya bisa dilakukan dengan membebaskan Papua dari budaya mabuk-mabukan yang kini konon katanya tengah menjadi salah satu bagian dari kehidupan di Papua, terutama bagi para pemudanya.

Langkah ini, tentunya dirasa menjadi salah satu langkah yang terpenting yang harus dilakukan saat ini. Budaya Miras (Minuman keras) atau mabuk-mabukan ini, tentu telah melemahkan para pemuda Papua kita. Mereka telah dibuatnya menjadi pribadi-pribadi yang pemalas, bodoh dan tempramental. Lebih dari itu, tentu budaya tersebut juga telah membuat mereka (para pemuda Papua) kita menjadi orang-orang yang harus terenggutnya di dalam masa mudanya (Banyak yang meninggal gara-gara miras ini).

Banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari budaya miras ini. Dalam hal ini, saya teringat akan sebuah kisah, tentang seorang pemuda yang sedang dibujuk dan dirayu oleh setan.

Konon katanya, pada suatu waktu seorang pemuda dalam kesendiriannya, telah mengundang setan yang ada di sekitarnya untuk membujuk dan merayunya. Setan tersebut datang dan mulai merayu pemuda itu untuk melakukan kemaksiatan. Dalam rayuannya, si setan menawarkan kepada pemuda itu untuk melakukan salah satu kemaksiatan, dari 3 pilihan yang ditawarkannya. Pertama, si setan itu menwarkan pemuda itu untuk membunuh. Kedua, si setan itu menwarkan pemuda itu untuk memperkosa seorang wanita yang sedang duduk-duduk tidak terlalu jauh darinya. Ketiga, si setan menwarkan pemuda itu untuk minum minuman keras (mabuk).

Si pemuda itupun mulai berpikir dalam lamunannya dan memikirkan mana yang harus dipilihnya dari tiga pilihan yang ditawarkan si setan tadi. Bila ia memilih membunuh, ia berpikir bahwa hal itu terlalu berat baginya. Pertama, tentu membunuh itu akan menghilangkan nyawa orang yang dibunuhnya. Selain itu, ia pikir bahwa dosa membunuh yang harus diembannya itu terlalu besar baginya. Lebih dari itu, ia juga pikir bahwa jika pilihan itu ia ambil, maka ia akan hidup tidak tenang karena akan dikejar-kejar polisi, yang pada akhirnya ia juga akan mendekam di dalam penjara. Dengan demikian, si pemuda itupun memutuskan untuk tidak memili pilihan membunuh yang ditawarkan si setan tadi.

Selanjutnya, si pemuda itupun mulai berpikir, bagaimana jika ia mengambil pilihan untuk memperkosa seorang wanita yang sedang duduk-duduk tak jauh darinya itu. Ia berpikir, bahwa jika pilihan itu diambilnya, tentunya ia akan mendapatkan kepuasan seksualitas yang selalu diidam-idamkan oleh setiap laki-laki. Tapi, kemudian ia juga mulai berpikir terhadap dampaknya. Ia berpikir bahwa jika ia mengambil pilihan tersebut, hal itu masih terhitung berat baginya. Ia berpikir bahwa jika ia mengambil pilihan tersebut, ia akan merenggut kehidupan wanita itu. Ia akan menghinakan wanita itu dan menodai kesuciannya. Ia berpikir bahwa ia tidak sampai hati untuk melakukannya, yang mungkin akan membuat wanita itu menangis dalam seumur hidupnya. Selain itu, ia juga berpikir bahwa dosa yang harus diembannya jika memilih pilihan itu, masih terhitung terlalu besar baginya. Lebih dari itu, ia juga berpikir bahwa jika ia memilih pilihan itu, sebagaimana jika ia memilih untuk membunuh, ia juga akan berakhir ke dalam dekaman penjara. Dengan demikian, iapun memutuskan untuk tidak memilih tawaran si setan untuk memperkosa wanita yang sedang duduk tak jauh darinya.

Akhirnya, iapun mulai beralih pada pilihan terakhir yang ditawarkan si setan, yakni minum minuman keras (mabuk). Dalam pikirnya, ia berpikir bahwa ini pilihan yang dirasanya teringan baginya. Ia berpikir, pilihan ini tidak akan berdampak merugikan orang lain, dosa yang harus diembannya tidak terlalu besar dan ia juga tidak akan berakhir di penjara. Dengan demikian, iapun memutuskan untuk memilih pilihan ini (mabuk).

Singkat cerita, beberapa botol minumanpun terhidang di depannya. Ia mulai meminumnya seteguk demi seteguk, hingga ia merasakan pikirannya membumbung tinggi melayang dalam lamunan. Namun, apa yang terjadi setelah ia hanyut dalam mabuknya, ternyata minuman yang telah menghilangkan akal sehatnya mulai merusak pikirannya. Mabuk yang dinikmatinya, telah membawa ia kepada pikiran pikiran yang lain. Ia mulai membayangkan kenikmatan seksualitas dengan perempuan. Oleh karenanya, karena hilangnya akal, iapun mulai mendekati perempuan tadi, yang duduk-duduk di dekatnya. Ia mulai merayu, mengganggu hingga memperkosanya. Lebih dari itu, setelah berhasil memperkosa wanita tersebut, si pemudapun mulai berpikir bahwa jika ia membiarkan si wanita tersebut pergi, ia akan dilaporkan oleh wanita itu ke polisi. Dengan demikian, dalam mabuk beratnya iapun berpikir untuk membunuhnya. Dengan demikian, pada akhirya, pilihan mabuk yang dirasanya tidak terlalu berat dan beresiko baginya, malah telah mebawa ia kepada ketiga pilihan yang ditawarkan si setan semuanya. Akhinya, selain mabuk, iapun juga melakukan pemerkosaan dan pembunuhan. Ia telah merugikan orang lain, menghilangkan nyawa dan merenggut kehidupan orang lain. Dosa yang ditanggungnya begitu besar, dan dekaman penjarapun tak terhindar darinya. Tak disangka, ternyata mabuk atau meminum minuman keras telah berdampak buruk yang besar baginya.

Demikianlah, sebagaimana kisah tersebut, mabuk-mabukan mempunyai banyak dampak yang negatif. Begitupun terhadap Papua, bila para pemudanya tidak terhindarkan dari budaya mabuk-mabukan, tentunya akan membuat Papua kehilangan set terbesarnya, para pemuda yang seharusnya menjadi harapan Papua untuk membangunnya. Para pemuda itu akan menjadi para pemalas, bodoh, emosional, tempramen, yang dengan demikian, maka segala kejahatanpun bisa timbul darinya. Kekacauan bisa ditimbulkan oleh para pemuda yang hanyut dalam mabuk-mabukan, pemerkosaan, pembunuhanpun tak akan terhindarkan. Rumah tangga akan sering terjadi percekcokan, kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) pun akan senantiasa bermunculan. Tatanan keamanan dan keharmonisan masyarakat akan menjadi kacau, dan dampak-dampak lainnya pun tak akan bisa dibendung.

Untuk itu, mari kita hapus budaya mabuk-mabukan di Papua ini. Mari kita selamatkan para pemuda Papua yang menjadi harapan kemajuan Papua kita. Mari Tong merdekakan Papua dari MIRAS !!!

Senin, 17 Agustus 2015

Masyarakat Papua Bersatu Padu Untuk Rayakan HUT ke-70 NKRI

Dalam rangka HUT RI yang dilaksanakan pada tanggal 17 agustus 2015 kemarin, seluruh masyarakat Indonesia sangat bersemangat untuk memeriahkannya. Seluruh golongan masyarakat, dari yang tua,muda sampai anak-anak sangat bergembira menyambut Ulang Tahun Republik Indonesia ini.

Tidak tekecuali di wilayah Indonesia bagian Timur, yang sangat bersemangat memeriahkan HUT RI ini, itu terlihat dari berbagai Upacara yang di adakan di seluruh Papua Berlangsung Aman dan Hikmat dengan diikuti oleh seluruh lapisan Masyarakat yang ada di Papua. tidak lupa juga berbagai lomba yang diadakan seperti Lomba panjat pinang, lomba balap karung, lomba dayung, lomba memanah, sampai carnaval yang mendapatkan atusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat yang ada di Papua, tidak memandang itu kulit putih atau rambut keriting, seluruh masyarakat bersatu padu untuk memeriahkan HUT RI yang ke-70 ini.

“Diharapkan dengan diadakannya berbagai lomba ini, ke depan akan semakin mempersatu masyarakat yang ada Indonesia Khususnya di Papua. Untuk itu semakin hari seharusnya kita semakin sadar akan makna kemerdakaan itu sendiri, dengan bersama-sama membangun Negeri yang sangat kita Cintai ini, jangan ada lagi kemiskinan, jangan ada lagi kebodohan karena Indonesia sudah Merdeka, tidak ada lagi yang bisa menngganggu gugat kutuhan NKRI.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites